"Non Ego Sed Christus in me" (Bukan aku tetapi Kristus di dalam aku (Gal. 2:20) )

Arah Dasar Keuskupan Sintang 2017-2021

VISI

Gereja Katolik Keuskupan Sintang, sebagai persekutuan umat Allah, bercita-cita membangun kerajaan Allah, dalam hidup menggereja dan bermasyarakat, melalui tugas perutusan sebagai nabi, imam dan raja, demi keselamatan manusia.

 

MISI

Melalui pelayanan pastoral yang dialogis, sinergis, partisipatif dan berbasiskan data, umat Allah Keuskupan Sintang berkomitmen untuk:

  1. Memperdalam iman melalui katekese, doa, devosi, ibadat, sakramen dan Sabda Allah.
  2. Menanamkan dan menubuhkan semangat kerasulan, hidup menggereja dan bermasyarakat.
  3. Meningkatkan kualitas pelayanan dan lembaga pastoral.
  4. Meningkatkan pelayanan pastoral kepada anak, remaja, orang muda dan keluarga.
  5. Berbelarasa dengan korban ketidakadilan dan kaum marginal demi pemulihan martabat manusia.
  6. Memelihara dan memulihkan lingkungan hidup.

 

GAGASAN POKOK

Setiap insan dan lembaga apa pun pasti memiliki cita-cita atau idealisme mengenai masa depan yang hendak dicapai, baik untuk jangka pendek, menengah maupun panjang. Semua cita-cita selalu berkaitan erat dengan kodrat dari lembaga atau eksistensi orang itu sendiri. Demikian pula dengan Gereja Katolik Keuskupan Sintang.

Identitas kodrati dari Keuskupan Sintang, yang pertama dan terutama ialah sebuah lembaga gerejawi, bagian dari Gereja Katolik universal, yang didirikan oleh Kristus sendiri (Mat 16:18). Gereja mendasarkan dirinya pada Kitab Suci dan ajaran para Rasul dan bersekutu dalam Ekaristi dan doa (Kis 2:42). Oleh para Rasul, kabar gembira diwartakan ke mana-mana sehingga tersebarlah para pengikut Kristus, yang menghayati iman, ajaran, ibadah dan kepemimpinan yang satu dan sama (Apostolorum Successores I.II no. 7 dan LG no. 9 dan 22), serta hidup sebagai sebuah persekutuan umat beriman. Inilah yang kita sebut Gereja Kristus, yang subsistit in (ada, berkarya dan satu-satu yang benar) dalam Gereja Katolik (LG no. 8; DH no. 1).

Kristus telah menghadirkan Kerajaan Allah dan kita telah masuk ke dalamnya. Itu sebabnya Kristus mendirikan Gereja-Nya, supaya para pengikut-Nya, anggota kerajaan-Nya, melanjutkan dan melaksanakan tugas perutusan, sesuai kemampuan dan kesempatan masing-masing (M no. 2-4). Ardas ini menggunakan frasa 'membangun kerajaan Allah' dalam pemahaman sebagai sebuah tugas perutusan untuk mengamalkan iman dan kasih dan untuk mewartakan injil (Mrk 16:15) sehingga kerajaan Allah disebarluaskan di mana-mana (Kis 28:31; M no. 2) serta untuk membangun seluruh umat manusia dan alam ciptaan, supaya seluruh umat manusia percaya kepada Kristus (1Kor 15:27), semuanya tunduk menyembah hanya kepada Allah, selalu hidup seturut kehendak dan perintah Allah, dan menjadi satu persekutuan (komunio) umat Allah yang diselamatkan (bdk KGK no. 752).

Kerajaan Allah itu seperti seorang petani yang menaburkan benih di ladang, lalu menyiram dan merawatnya dengan baik dan bagaimana benih itu bertumbuh, ia tidak mengetahuinya (Mrk 4:26-29), atau seperti biji sesawi, yang terkecil di antara segala sesayuran, yang harusditaburkan di tanah dan dipelihara sehingga bertumbuh besar dan menjadi naungan bagi burung-burung di udara (Mrk 4:30-34; Luk 13:18¬21). Kerajaan Allah itu harus ditaburkan dan harus dipelihara supaya bertumbuh. Kita harus membangun kerajaan Allah agar kerajaan Allah itu berbuah, karena bila tidak berbuah, maka akan diambil dari kita (Mat 21:43). Untuk melaksanakan tugas perutusan ini, kita diberi karunia-karunia serta berbagai karisma (1Kor 12:4-7). Kasih dan iman (Gal 5:6) menjadi dasar persekutuan sehingga semuanya selalu aktif, proaktif, terlibat dan saling berbagi (Gal 6:2; bdk. Kis 4:32-37).

Maka, setiap umat Katolik tidak hanya mengusahakan keselamatannya sendiri, tetapi keselamatan orang lain juga (LG no. 7; KGK no. 791). Sebagaimana Kristus tidak hanya mengampuni dosa tetapi juga menyembuhkan yang sakit dan memberi makan kepada yang lapar, maka umat Katolik tidak hanya mengusahakan keselamatan jiwa, tetapi juga kesejahteraan duniawi. Dengan kata lain, keselamatan manusia itu menyangkut jiwa dan raganya. Demikian pula, umat Katolik tidak hanya mengusahakan keselamatan sesama umat Katolik, tetapi seluruh umat manusia (Yoh 10:16); tidak hanya membangun Gereja Katolik, tetapi membangun seluruh masyarakat dan alam ciptaan Tuhan. Kodrat ini pula yang menjadi kodrat Keuskupan Sintang, yang dijadikan cita-cita dan tujuan utama kehadiran Gereja Keuskupan Sintang, yaitu melanjutkan karya keselamatan Kristus dengan membangun kerajaan Allah demi keselamatan umat manusia.

Tujuan utama dari karya Allah, inkarnasi Yesus serta karya dan pewartaan Yesus ialah untuk keselamatan manusia. Demikian pula tujuan utama dan akhir dari Gereja di dunia ini ialah untuk keselamatan manusia dan kemuliaan Allah. Maka, ini pula yang hendaknya menjadi tujuan utama dari kehadiran dan karya Gereja Keuskupan Sintang. Karena itu hukum yang tertinggi dalam Gereja ialah keselamatan jiwa-jiwa (KHK kan. 1752).

Pembangunan kerajaan Allah dan melaksanakan karya keselamatan hanya dapat terlaksana bila seluruh umat Allah, masing-masing dan bersama-sama bahu membahu menjalankan tiga karya dan perutusan utama (munus triplex), yaitu munus docendi, munus sanctificandi dan munus regendi; sebagai nabi, imam dan raja; sebagai pewarta, pengudus dan pemimpin; melaksanakan karya kerasulan atau kesaksian, karya ibadah atau sembah bakti, dan karya pelayanan; kerygma, liturgi dan pastoral atau kegembalaan (LG no. 31; KGK no. 436 dan 783-786).

Oleh pembaptisan, setiap umat, klerus dan awam (LG no. 37; KHK kan. 212 dan 228), wajib melaksanakan tiga perutusan ini sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing (Ef. 4:16). Setiap umat, sendiri dan bersama-sama, harus mengamalkan imannya, kapan dan di mana pun dan dalam keadaan apa pun, baik di dalam komunitas gerejawi juga sebagai anggota masyarakat. Pengamalan dalam hidup sehari-hari ini dituntun oleh Roh Kudus, dibantu dengan rahmat Allah dan didayai dengan doa, ibadat, sakramen dan Sabda Allah. Karena itu, seluruh hidup umat beriman, yaitu perkataan, pikiran, kehendak dan perbuatan hendaknya menjadi pengejawantahan imannya. Proses pengejawantahan ini dapat tampil dalam berbagai bentuk dan cara, penuh tantangan bahkan kegagalan. Karena itu iman harus selalu diperbarui dan diperdalam dengan berbagai cara, sehingga setiap umat beriman akan hidup seturut nilai dan keutamaan kristiani, yaitu kebenaran, kebaikan, keadilan, kejujuran, kesucian, kearifan, keugaharian, keberanian, kesaksian, persaudaraan, kedamaian, sukacita, belaskasih, serta cinta kasih (bdk Gal 5:22-23).

Identitas dan kodrat Gereja yang kedua ialah, baik sebagai sebuah persekutuan maupun sebagai masing-masing anggota, adalah bagian dari masyarakat sosial, yang terikat dalam sistem kenegaraan Indonesia dan ideologi Pancasila (Iman Katolik, hal. 457-460). Maka, tugas perutusan dan karya Gereja Katolik Keuskupan Sintang tidak pernah bisa dilepaskan darinya. Karena itu, masalah dan tantangan, dukacita dan penderitaan, sukacita dan harapan masyarakat, bangsa dan umat manusia seluruhnya, juga adalah masalah dan tantangan, dukacita dan penderitaan, sukacita dan harapan Gereja Katolik Keuskupan Sintang (GS no. 1). Gereja tidak hanya peduli dengan jiwa manusia dan surga tetapi juga kemanusiaan duniawinya serta semua yang menopang kemanusiaannya. Maka, baik perihal surgawi maupun duniawi, perihal gerejawi maupun kebangsaan, perihal kemanusiaan maupun lingkungan alam, semuanya menjadi wadah pengamalan iman dan dituntun oleh iman (KASG no. 166-167). Inilah medannya dan beginilah cara kita memba-ngun kerajaan Allah dan melaksanakan karya keselamatan.

Gereja Keuskupan Sintang harus menjadi Gereja yang inklusif, nasionalis, terlibat aktif dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa serta dalam pengentasan berbagai permasalahan, dalam kerja sama dengan semua pihak terkait (KASG no. 189-191). Gereja Keuskupan Sintang juga harus menjadi Gereja yang, bekerjasama dengan semua yang berkehendak baik, peduli dengan berbagai pesoalan umat manusia, seperti maraknya budaya kematian, kemiskinan, ketidakadilan, serta rusaknya lingkungan hidup (KASG no. 451-487) dan martabat manusia (KASG no. 132-134).

Karena itu, Gereja Keuskupan Sintang menetapkan cita-cita atau visi dirinya, yaitu membangun kerajaan Allah dalam hidup menggereja dan bermasyarakat, melalui tugas perutusan sebagai nabi, imam dan raja, demi keselamatan manusia.

Cita-cita besar, padat dan luas ini hendak diwujudkan melalui enam sasaran prioritas yang disebut sebagai Misi. Enam sasaran prioritas ini diwujudnyatakan dalam bentuk Rencana Operasional, yaitu berupa Rencana-rencana Kerja Prioritas (Renjas) dan Program-program Kerja (Progja), baik di tingkat keuskupan maupun parokial (Paroki, Wilayah, Stasi dan Lingkungan), kelompok-kelompok kategorial dan komunitas-komunitas.