"Non Ego Sed Christus in me" (Bukan aku tetapi Kristus di dalam aku (Gal. 2:20) )

Profil

Geografi

Keuskupan Sintang terletak di bagian timur-laut Kalimantan Barat. Di sebelah barat berbatasan dengan keuskupan Sanggau; di sebelah barat laut adalah keuskupan Serawak; di sebelah utara dan timur laut adalah keuskupan Kinabalu; di sebelah timur adalah keuskupan Tanjung Selor; di sebelah timur tenggara adalah keuskupan agung Samarinda dan keuskupan Palangkarya; di sebelah selatan adalah keuskupan Palangkaraya; dan sebelah barat daya adalah keuskupan Ketapang.

Keuskupan Sintang terdiri dari tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Sintang (luas wilayah: 22.113 km2), yang terdiri dari 14 kecamatan dan 17 paroki; Kabupaten Kapuas Hulu (luas wilayah: 29.842 km2), yang terdiri dari 23 kecamatan dan 14 Paroki; dan Kabupaten Melawi (luas wilayah: 10.165 m2), yang terdiri dari 7 kecamatan dan 5 paroki. Luas wilayah keuskupan Sintang ialah 62.120 km2.

 

Topografi

Wilayah keuskupan Sintang umumnya bertopografi dataran dengan ribuan kali dan sungai. Hutan masih ada di mana-mana tetapi  menyusut terus dan cepat. Tanah dataran umumnya bergambut dan rawa. Gunung-gunung atau daerah perbukitan umumnya berada jauh di pedalaman. Di daerah hilir umumnya memiliki sungai-sungai yang besar dan dengan aliran air berwarna coklat tanah. Hanya di daerah-daerah hulu, terdapat sungai-sungai berbatu dengan air yang bersih dan jernih.

Sungai, yang sejak ribuan tahun lalu sudah sebagai jalur transportasi, masih menjadi salah satu urat nadi penting transportasi di beberapa daerah, walaupun jalan untuk kendaraan roda empat dan dua sudah mencapai hingga ke banyak pelosok. Para misionaris selama seratus tahun pertama, praktis ke mana-mana menggunakan transportasi air.

Mengenai transportasi air ini, perlu kiranya disebutkan beberapa motor air (perahu motor atau kapal motor) yang telah sangat berjasa pada masa-masa awal Gereja di keuskupan Sintang, karena telah membawa para misionaris berturne ke berbagai wilayah di Keuskupan Sintang.

Kapal motor saat itu ialah kapal motor (KM) Lien, KM Irma, KM Rasul, KM. Eva, KM Damai, KM Pengasihan, KM Bertha, KM Dharmawati. Banyak kali para misionaris menumpang KM West Borneo dan KM Flora dan kapal motor milik pemerintah Hindia Belanda lainnya dan juga milik para pedagang, yang umumnya adalah keturunan Tionghoa. KM Lien, KM Irma, KM Rasul adalah kapal motor yang paling sering disebut dan dipakai.

Paroki Putussibau memiliki KM Sinar dan paroki Sejiram memiliki KM Mawar, dan Paroki Bika Nazareth memiliki KM Damai dan Marley, dan Suster SMFA memiliki KM Dharmawati. Semuanya rata-rata berdaya angkut tiga atau empat ton. Setelah tahun 1970-an, paroki-paroki memiliki beberapa motor tempel (speed-boat) dengan daya antara 6 s.d. 25 PK, merek Johnson dan belakangan juga merek Yamaha. Di samping itu, saat itu, Keuskupan juga membeli dua kapal motor baru, yaitu KM Harapan dan KM Ferry dengan daya angkut 40 ton. Yang terakhir ini dibeli terutama untuk keperluan belanja barang-barang ke Pontianak.

Pada umumnya jalan-jalan darat hanya diaspal kasar penuh lobang hingga hanya sekedar pasir dan tanah liat. Sumber penghasilan warga, sebagian besar umat adalah petani karet, ladang tradisional dan sawit. Yang terakhir ini marak masuk ke wilayah ini sejak tahun 1990-an. Kehadiran kelapa sawit secara besar-besaran pada dua dekade terakhir ini bukan hanya mendatangkan keuntungan ekonomi, tetapi juga berdampak negatif, baik kepada alam maupun warga yang terkena proyek sawit.

Dua sungai besar yang melintasi Keuskupan Sintang ialah Sungai Kapuas dan Sungai Melawi di mana kota Sintang adalah tempat pertemuan kedua sungai besar ini. Sungai besar anak sungai Kapuas antara lain, sungai Bunut, sungai Embaloh, sungai Mandai, sungai Ketungau, sungai Tempunak, dsb. Sungai besar yang merupakan anak sungai Melawi antara lain, sungai Pinoh, sungai Belimbing, sungai Ella, dsb.

 

Populasi Umat

Tahun 1940-an, seluruh penduduk pada wilayah keuskupan Sintang  berjumlah sekitar 200.000-an jiwa. Tahun 1950, penduduk seluruhnya sebanyak 202.444 jiwa. Tahun 1990 berjumlah sekitar 545.000 jiwa, dan tahun 2000 berjumlah 642.768 jiwa, serta tahun 2009, jumlah penduduk di seluruh wilayah keuskupan Sintang mencapai 767.635 jiwa, yang mana 216.598 jiwa (27.8%) tercatat sebagai beragama Katolik.

Catatan dari Buku Petundjuk Geredja Katolik Indonesia, jilid 1, tahun 1970, menyebutkan bahwa jumlah umat Katolik yang sudah dibaptis pada tahun 1969 ialah 11.554 jiwa; sementara dalam catatan website hirarki Katolik,  yang mungkin bersumber dari Guida Delle Missione Cattoliche, pada tahun 1969 sudah berjumlah lebih dari 12 ribu orang. Angka ini meroket tajam dalam 10 tahun kedepannya. Menurut sensus pemerintah, pada tahun 1980, jumlah penduduk pada keuskupan Sintang seluruhnya adalah 391.926 jiwa di mana jumlah orang yang mengaku Katolik sebanyak 130.966 jiwa (33,4%), sementara yang dibaptis baru sebanyak 37.778 orang (10.24 %).

Pada tahun 2010, jumlah umat Katolik keuskupan Sintang adalah 225.576 jiwa. Di sisi yang lain jumlah seluruh penduduk di wilayah ini adalah 765.496 jiwa, yang berarti umat Katolik di keuskupan Sintang mencapai 29,4% dari jumlah penduduk seluruhnya.

Pertumbuhan umat Katolik Keuskupan Sintang selama ini, sebagian besar berasal dari pembaptisan dewasa. Para baptisan dewasa ini umumnya berasal dari mereka yang belum beragama dan yang selama ini mengakui sebagai orang Katolik, baik di Kartu Tanda Penduduk maupun dalam kehidupan publik. Berikutnya menyusul baptisan baru bayi dan bagian kecil lainnya, ada baptisan dewasa baru pindahan dari agama lain.

Mayoritas umat Katolik adalah dari etnis Dayak, yang merupakan suku asli di Kalimantan. Selain itu juga cukup banyak umat yang berasal dari etnis China (Tionghoa), NTT, Jawa, dan berbagai suku lainnya. Komposisi setiap paroki berbeda-beda. Umumnya paroki-paroki kota memiliki cukup banyak umat non-Dayak dibandingkan dengan paroki-paroki pedalaman yang hampir semuanya adalah suku-ras Dayak.

Salah satu tantangan berat pelayanan di keuskupan Sintang ialah sebaran umat. Walau total hanya berjumlah 225.576 jiwa pada tahun 2010, tetapi mereka manyebar di 3 regio/wilayah, yang terdiri dari 36 paroki dengan total 1.118 stasi/kampung. Karena menyebar di begitu banyak stasi (kampung) maka masih sering terjadi seorang Pastor Paroki hanya dapat mengunjungi sebuah kampung (stasi) satu atau dua atau tiga kali saja dalam setahun. Inilah tantangan besar karya pastoral Gereja Keuskupan Sintang. Untuk memecahkan masalah ini, keuskupan terus menggalakkan partisipasi umat, terutama pemberdayaan Pemimpin Umat serta kaderisasi kaum muda pada setiap paroki dan stasi.